Tampilkan postingan dengan label SANG LEGENDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SANG LEGENDA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Januari 2017

10 Moment Terbaik Karir Paolo Maldini


Legenda AC Milan Paolo Maldini meninggalkan sepakbola dengan cara yang luar  biasa.  Paolo Maldini menorehkan banyak prestasi, baik di level klub maupun tim nasional. Dari semua yang sudah dicatatnya, kami rangkumkan sepuluh momen  terbaik dalam karirnya.



10. Debut 

20 Januari 1985 - Udinese vs Milan (1-1) "Kamu ingin bermain di mana, kiri  atau kanan?" tanya Nils Liedholm, pelatih AC Milan saat itu di jeda  pertandingan. "Anda yang putuskan," jawab Paolo yang saat itu masih berusia 16 tahun. Pelatih Swedia itu kemudian memposisikannya di kanan mengisi  tempat Sergio Battistini dan lahirlah seorang legenda.

9. Pertama Untuk Italia 

14 Juni 1988 - Italia vs Spanyol (1-0) Paolo Maldini semakin menancapkan  cakarnya di sepakbola dunia dengan menjadi salah satu pemain yang paling  dikenal mulai tahun itu. Saat itu dia berusia 19 tahun dan sekaligus  mengantar Italia menang atas Spanyol 1-0 berkat gol tunggal Gianluca Vialli.

 8. Scudetto Pertama

15 Mei 1988 - Como vs Milan (1-1) AC Milan meraih gelar scudetto pertama mereka sejak musim 1978/79. Sukses di tahun ini juga menjadi awal bagi Maldini mengoleksi gelar dan medali juara.

7. Hancurkan Barcelona

18 Mei 1994 - Milan vs Barcelona (4-0) Setelah kalah di tahun sebelumnya, Milan berhasil tampil di final Piala Champions berturut-turut. Barcelona yang menjadi lawan mereka dibuat tak berdaya di partai itu, terutama di
barisan depan karena keberadaan Maldini di posisi bek. Setelah meluluhlantakkan Barca 4-0, Milan pun mengangkat tropi juara.

6. Penakluk Duo Brasil

17 Juli 1994 - Brasil vs Italia (3-2) Paolo Maldini nyaris saja memenangi tropi Piala Dunia pertamanya di tahun itu. Sayang Italia kalah lewat drama adu penalti. Namun yang membuatnya spesial adalah kemampuan Maldini menghentikan duo terbaik Brasil, Bebeto dan Romario di waktu normal.

5. Kuartet Tangguh Italia

12 Februari 1997 - Inggris vs Italia (0-1) Di tahun ini terbentuk lini belakang Italia paling tangguh di eranya, yang kemudian dikenal sebagai pertahanan gerendel. Paolo Maldini menjadi pengendali lini belakang dibantu Ciro Ferrara, Alessandro Costacurta dan Fabio Cannavaro. Sampai saat ini, ketangguhan empat pemain Italia itu belum ada yang bisa mengalahkan. 


4. Hanya Tiga Bek? Tak Masalah

29 Juni 2000 - Belanda vs Italia (3-1) Di momen ini Paolo Maldini kembali membuktikan ketangguhannya memimpin lini belakang Italia. Di semifinal Piala Eropa 2000 melawan Belanda yang kental dengan total football-nya, Maldini bisa menahan gempuran lawan meski hanya ditemani dua koleganya, Cannavaro dan Nesta, setelah di menit 35 Gianluca Zambrotta diusir keluar. Hebatnya, Maldini cs lolos ujian itu dan akhirnya menang dan lolos ke final lewat drama adu penalti.

3. Catat Rekor

7 Oktober 2000 - Italia vs Rumania (3-0) Laga kualifikasi Piala Dunia 2002 itu menjadi partai spesial bagi Paolo Maldini karena dia mencatat caps terbanyak dengan 113 laga untuk Italia. Kemenangan 3-0 menjadi hadiah lain yang diterima Maldini setelah sebelum laga juga mendapat penghargaan berupa tropi spesial yang diberikan langsung oleh Giovanni Trapattoni, Cesare Maldini, Arrigo Sacchi dan Dino Zoff.

2. Dua Gol Kemenangan

2 Oktober 2005 - Milan vs Reggina (2-1) Ketika lini depan tidak produktif, Paolo Maldini membuktikan dirinya juga bisa diandalkan untuk membawa timnya menang. Dia mencetak dua gol lewat kaki dan kepalanya dan membawa Milan meraih tiga poin atas Reggina berkat kemenangan 2-1.

1. Liga Champions Terakhir

23 Mei 2007 - Milan vs Liverpool (2-1) Maldini mengangkat tropi juara untuk kali kedua sebagai kapten AC Milan di usia 38 tahun setelah menundukkan Liverpool 2-1 di Athena.

Senin, 16 Januari 2017

10 Fakta Menarik Striker Tersubur AC Milan Andriy Shevchenko dan Mengapa Ia Pindah ke Chelsea Saat Masa Terbaiknya Di San SIro

Image result for andriy shevchenko
Andriy Shevchenko, pesepakbola yang menjadi legenda AC Milan dan juga menjadi legenda di negaranya, Ukraina. Striker yang banyak menyumbang gol untuk AC Milan ini menjadi pemain peringkat-3 pencetak gol terbanyak di Liga Champion sepanjang sejarah. Pindah ke Chelsea, Sheva lebih banyak duduk di bangku cadangan. Sebenarnya ini bukan kesalahannya saja, badai cedera menghampiri Sheva hingga kurang tampil maksimal.

Inilah 10 fakta menarik Shevchenko :

1. Di Milan, Shevchenko menjadi pemain non Italia pertama yang debutan menjadi topskor Serie A dengan 24 gol dari 32 pertandingan.
2. Shevchenko menjadi pencetak gol terbanyak ketiga di ajang kompetisi klub eropa dengan total 60 gol dibawah Gerd Muller dan Filippo Inzaghi.
3. Pada tahun 1986, ketika Sheva masih berusia 9 tahun, dia dan keluarganya menjadi korban meledaknya reaktor nuklir Chernobyl yang membuat mereka mengungsi.
4. Shevchenko berteman dekat dengan desainer ternama Giorgio Armani dan mereka berdua patungan membuka toko busana di Kiev.
5. Pada saat membela Ukraina u-14 di ajang Piala Ian Rush, Sheva kecil menjadi topskor dan dihadiahi langsung sepatu milik Ian Rush, legenda Liverpool.
6. Pada saat liga Champion 2005 melawan Fenerbahce, Shevchenko mencetak 4 gol sekaligus.
7. Usai pertandingan melawan Inggris di kualifikasi grup EURO 2012, Shevchenko berdiri di lapangan mengumumkan dirinya pensiun dari timnas Ukraina.
8.Alasan Shevchenko pindah ke Chelsea ternyata dikarenakan keinginannya yang ingin anaknya tumbuh besar di lingkungan Inggris.
9. Shevchenko menjadi pemain dengan transfer paling mahal didatangkan klub Inggris sebesar 30,8 juta Euro.
10. Pada 28 Agustus 2009, Shevchenko kembali ke klub masa kecilnya, Dinamo Kiev.

Minggu, 15 Januari 2017

Maldini dan AC Milan sebagai Jalan Hidup

Maldini dan AC Milan sebagai Jalan Hidup
Italia merupakan salah satu negara sepakbola yang kerap kali melahirkan talenta berbakat yang kemudian dikenal dunia. Dan jika kita berbicara siapa pemain berbakat yang kemudian menjadi legenda, Paolo Maldini adalah salah satunya.

Tak bisa dipungkiri, dari sederet bintang-bintang Italia, Maldini merupakan salah satu bek terbaik Italia, bahkan dunia. Salah satu buktinya, bek legenda Spanyol, Carles Puyol, pun menjadikan Maldini sebagai panutannya dalam bermain.

Maldini memang merupakan bek tangguh yang tak mudah dilewati penyerang lawan. Bagi penyerang lawan yang coba menyerang AC Milan ataupun timnas Italia dari sisi kiri pertahanan, ia harus siap-siap menghadapi jegalan dari pemain kelahiran 26 Juni 1968.

"Saya selalu menemukan diri saya kesulitan saat menghadapi Paolo Maldini," ujar legenda Brasil, Luiz Nazario Ronaldo Da Lima yang dilansir Foxsport pada 2014. "Ia tentunya merupakan bek tertangguh yang pernah saya hadapi sepanjang karir saya. Ia seharusnya layak mendapatkan gelar pemain terbaik dunia, bahkan beberapa kali."

Pengakuan Ronaldo, yang bermain di kesebelasan rival Maldini, sedikit banyak menunjukkan kehebatan Maldini dalam menjaga lini pertahanan. Soal gelar pemain terbaik dunia, Maldini sendiri pernah menjadi runner-up Ballon dÂ’Or (1995), dan dua kali berada di peringkat tiga (1994 dan 2003).

Kehebatan lainnya dalam menjaga pertahanan pun ditunjukkan dengan kepemimpinannya di atas saat bermain. Maldini yang menjadi kapten AC Milan dan timnas Italia ini memang sering terlihat garang di lapangan dengan tekel-tekelnya, namun statistik menunjukkan (menurut fifa.com), dari lebih 1000 pertandingan yang ia jalani selama karirnya, Maldini hanya sekali mendapatkan kartu merah, yaitu saat Milan menghadapi Ancona.

Berbicara mengenai prestasi individu, terlalu banyak tinta emas yang ia pernah ia torehkan baik saat berseragam rossonero maupun gli azzurri. Dimulai dari pemain dengan caps terbanyak di timnas Italia, bek terbaik, masuk dalam tim all-star, penampilan terbanyak di Milan dan Serie A, dan masih banyak lagi.

Di AC Milan, Maldini memang begitu tak tergantikan hingga penghujung karirnya. Salah satu keberhasilannya selalu menjadi pilihan utama setiap pelatih Milan adalah dengan selalu bisa beradaptasi dengan strategi-strategi yang pelatihnya terapkan.

Maldini memahami benar seperti apa filosofi bermain Milan. Ketika Franco Baresi memutuskan untuk pensiun dan ban kapten beralih padanya, ia tak merasa terbebani dengan kebesaran Baresi sebagai salah satu legenda AC Milan karena pemahamannya akan filosofi bermain Milan. Ia hanya perlu mempelajari bermain sebagai libero saat Alberto Zaccheroni memeberikan peran Baresi pada Maldini. Dan ia berhasil.

"Saya hanya belajar untuk menerima setiap bagian dan pembagian peran di Milan," ujar Maldini pada fifa.com. "Milan selalu bermain dengan gaya bermainnya sendiri ketimbang mengubah gaya bermain untuk menghancurkan gaya bermain lawan. Pemain berganti, tapi filosofi ini tak pernah berubah."

Ini menjadi jawaban atas performa yang sama baiknya ketika ia bermain sebagai bek tengah maupun bek kiri. Maka ketika ia disandingkan dengan bek-bek hebat seperti Mauro Tassotti, Alessandro Costacurta, Alessandro Nesta, dan Baresi sekalipun, ia hanya perlu mempelajari perannya dalam bermain.

Pemain yang memahami dan mengerti instruksi tentunya akan menjadi idaman setiap pelatih. Dan dengan pelatih hebat macam Arrigo Sacchi, Fabio Capello, Carlo Ancelotti, dan Zaccherroni, 26 trofi pun berhasil ia persembahkan untuk AC Milan.

Dinasti Maldini di AC Milan

Sebenarnya tak mengherankan Maldini menjadi pemain hebat. Ayahnya, Cesare Maldini, merupakan salah satu bek timnas Italia pada 1962 hingga 1968. Cesare pun merupakan bek kanan andalan AC Milan selama 12 musim. Like father like a son ini pun berlanjut ke anak Paolo, Christian Maldini, yang saat ini sudah bermain di AC Milan Primavera.
Cesare, Paolo, dan Christian Maldini. (via: corriere.it)Cesare, Paolo, dan Christian Maldini. (via: corriere.it)


Klan Maldini tampaknya tengah membangun dinasti di AC Milan. Hal ini sendiri tak pernah terbayangkan oleh Cesare Maldini. Apalagi saat Maldini belum mengikuti akademi mana pun, Maldini kecil sempat berkeinginan untuk membela raksasa Italia, Juventus, yang tentunya rival AC Milan.

"Saya sempat sangat menyukai Juventus di masa lalu. Saat itu saya menyaksikan timnas Italia yang berlaga di Piala Dunia 1978 Argentina. Saat itu, para pemainnya dihuni oleh banyak pemain Juventus," papar Maldini dalam acara Football Greatest yang ditayangkan Skysport.

Hal ini diamini sang ayah. Dan uniknya, secara tidak langsung Cesare-lah yang mendoktrin Maldini untuk menyukai Juventus dengan memberikan poster legenda Juventus, Roberto Bettega.

"Saya ingat, kami memiliki poster Roberto Bettega. Dan saya ingat ia menempelkannya di kamar tidurnya, poster yang sangat besar. Dan saya juga ingat bahwa saya-lah yang memberikan poster tersebut padanya," ujar Cesare pada acara yang sama.

Cesare memang tak mengharuskan anaknya bermain untuk AC Milan. Saat memilihkan akademi untuk Paolo, Cesare bahkan sempat memberikan pilihan pada Maldini untuk bergabung dengan Internazionale Milan, rival AC Milan yang memang memiliki akademi yang bagus.

"Semua orang tahu bahwa saya lama membela AC Milan. Bahkan hingga saat ini, saya adalah penggemar berat rossonero," ujar Cesare. "Tapi saya memberikan pilihan padanya [Maldini]. Saya bertanya ‘Kamu ingin menjalani trial di mana? Di Milan atau di Inter?Â’. Langsung Paolo menjawab ‘tidak, tidak. Milan. Saya ingin menjalani trial bersama MilanÂ’.

Dengan kemampuannya, ia pun diterima oleh akademi AC Milan. Maldini pun kemudian sudah menjalani debutnya bersama tim senior AC Milan pada usia 16 tahun. Sejak saat itu ia berikrar untuk menjadi rossonero dan ‘menguasaiÂ’ San Siro.

"Saya sebelumnya sudah datang ke San Siro beberapa kali saat saya masih kecil, dan tentu saja mengetahui dongeng-dongeng tentang tempat tersebut," Maldini mengisahkan. "Lalu pertama kalinya saya duduk di bench, saya ingat saat itu pertandingan antara Milan melawan Fiorentina di bawah guyuran hujan salju. Sejujurnya saya saat itu memang berharap tidak dimainkan karena sedikit takut."

"Itu sangat menakutkan," Maldini menceritakan debutnya saat melawan Udinese. "Namun saya memikirkan bahwa saya sudah cukup mampu untuk bermain di level tersebut. Saya masih ingat pada beberapa menit awal, saya mendapatkan bola, lalu mengembalikannya pada kiper. Setelah itu, saya baru menyadari, saya sedang bermain di Serie A."

Ya, berkat Milan, Maldini mencapai pada level di mana ia bermain di Serie A, mewujudkan cita-cita setiap pesepakbola muda di Italia. Karenanya, sejak saat itu, ia tak lagi berhasrat untuk membela Juventus dan memilih AC Milan sebagai kesebelasan yang ia cintai, di mana kemudian ia hanya membela AC Milan sepanjang karirnya.

Begitulah cara Maldini menjadikan AC Milan sebagai bagian hidupnya.